:kopipahit

Candala, seneng liat orang lain susah

Posted in :manusia by slamet bagio on April 17, 2007

Inilah yang terjadi pada nasib warga bangsa kita, Indonesia tercinta. Perjalanan sejarah politik, ekonomi, sosial budaya kita dalam tataran dunia, masih kapungan, kalo tidak mau dikatakan terbelakang, bukan dari isi dan bentuknya, tetapi lebih ke makna dan filosofinnya. Dimana secara makna dan filosofi bila masih ada kata candolo, yakni sifat bila seneng melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain seneng, masih menjadi arus mainstrem pemikiran alam bawah sadar kita. bagimana tidak, klo ada tetangga yang kaya, kita su’udlon – kayaknya ‘ngingu tuyul’ nih, klo ada temen yang karyanya diaprisiasi dunia – wah dah terkontaminasi kapitalis, klo tetangga demo – wah dah ketularan kumunis, klo tetangga sukses di jakarta – wah kayaknya jadi preman ato germo ni, klo ada guru besar dikukuhkan – wah buku aja gak pernah nulis, guru besar dari mana, klo ada tetangga tambah anak – wah bikin anak melulu, mau dikasih makan apa tuh, klo dicegat polisi karena gak pake helm – wah polisi korupsi, klo ada pejabat dipanggil KPK – wah emang gajinya gak cukup, dan mesti korupsi… dan seterusnya dan seterusnya.

mungkinkah dibangun dialog tanpa mengedepankan sifat “candolo”, mungkinkah keberadapan kita dapat kita bangun dengan elegan, penuh harga diri dan kebanggaan. Berapa banyak dari kita yang menyepelekan diri sendiri, secara tidak sadar tentunya. Klo pake baju pake merk asing ato diasing2-kan, klo produk kita pasti tidak berkualitas, klo bangsa indonesia itu pemalas dan sebagainya. Secara sadar kita telah menjerumuskan diri pada inferioritas kita, dan menyandera pikiran kita pada kotak ketidakmampuan diri, kebodohan dan rendah diri.

Pernahkan kita menyaksikan acara televisi, tanpa adanya komentar yang panjang lebar. Kita kadang-kadang “boros kata-kata” sebagai ganti “banyak bacot” lah.  katakan nonton bola liga inggris, yang kita liat permainan ato komentarnya sih.  tapi  komentar memang perlu karena ga semua penonton itu ngerti  permainan, tapi bagi yang suka bola, apalagi jam ttayang malem, dengan berbusa-busa  komentar, menjengkelkan. energi kita habis untuk berkata bagi pembicara, dan mendengar bagi pemirsa. nah bila dihitung-hitung bila berbuat ini banyak, maka energi untuk berkarya menjadi sedikit. nah tentunya budaya “tutur” ini yang akhirnya lebih mendominasi budaya Indonesia, budaya “catat”, budaya “kerja”, budaya”gerak” menjadi kurang. Pada akhirnya secara nasional, energi berbual ini semakin menggelembung, dan tidak heran bila, tempat usaha yang berkaitan dengan berbual ini laris manis. Nggak percaya, Face book, Kedai Kopi apalagi ada hotspot-nya, Parpol, Iklan, bahkan pangkalan ojek pun terbesar didunia (kerja sambil berbual).

Nah bidang kerja penelitian sains merupakan minat yang paling sedikit,  itu karena ketidaktahuan saya aja, tapi lha beli di pasaran aja dah canggih ngapain bikin pula. bahkan PT. DI pun orientasinya dah berubah, hidupnya mungkin dari sub-kon IT kali ya.

Jangan, jangan aku udah mengidap penyakit “candolo” juga ni.

tiban

Posted in :budaya by slamet bagio on April 17, 2007

mmmmam